Serie A

Serie A dan LaLiga Membalas Kritik Uni Eropa soal Rencana Laga di Luar Benua

Sports

Latar Belakang Polemik Pertandingan Luar Eropa

Keputusan Serie A dan LaLiga untuk menggelar pertandingan musim reguler di luar Eropa menimbulkan gelombang polemik. Isu ini semakin panas ketika pejabat Uni Eropa, Glenn Micallef, menuding langkah itu sebagai bentuk “pengkhianatan” terhadap fans lokal. Dalam konteks sepak bola modern, rencana semacam ini bukan hal baru, tetapi setiap kali wacana tersebut muncul, selalu terjadi benturan antara idealisme menjaga tradisi dan kebutuhan ekonomi yang makin besar.

Liga-liga top Eropa semakin sadar bahwa mereka bersaing bukan hanya secara lokal, tetapi juga global. Fans di Asia, Amerika, hingga Timur Tengah merupakan pasar besar yang menjanjikan. Klub-klub raksasa seperti Real Madrid, Barcelona, Manchester United, atau AC Milan memiliki jutaan pendukung di luar Eropa. Melalui pertandingan resmi yang digelar di luar benua, mereka berharap bisa semakin memperkuat keterikatan emosional sekaligus memperluas basis pemasukan.

Namun, bagi fans lokal di kota-kota tradisional, kebijakan ini bisa dianggap sebagai “perampasan budaya”. Sebuah laga Serie A di San Siro atau pertandingan LaLiga di Camp Nou tidak hanya soal sepak bola, melainkan juga bagian dari identitas sosial dan budaya kota tersebut. Karena itulah, kritik keras dari Uni Eropa dan kelompok suporter muncul secara masif.


Respon Keras dari Serie A dan LaLiga

Serie A: Branding Global Lewat Pertandingan Resmi

Pihak Serie A menekankan bahwa rencana membawa pertandingan ke luar Eropa adalah strategi branding global. Dengan menjadikan pertandingan resmi sebagai daya tarik, mereka ingin mengukuhkan eksistensi Serie A sebagai kompetisi kelas dunia yang punya daya tarik di luar Italia. Rencana laga AC Milan vs Como di Perth, Australia pada Februari 2026 dipandang sebagai proyek percontohan untuk melihat respons pasar.

Serie A melihat bahwa pasar Asia-Pasifik, khususnya Australia dan Asia Tenggara, sangat potensial. Fans Italia di sana cukup banyak, ditambah basis komunitas imigran yang setia mengikuti klub-klub Serie A. Dengan menghadirkan pertandingan resmi, bukan sekadar tur pramusim, Serie A berharap bisa meningkatkan hak siar, sponsorship, dan nilai komersial secara signifikan.

LaLiga: Javier Tebas Melawan Kritik

LaLiga, melalui presidennya Javier Tebas, justru menyerang balik kritik yang datang dari pejabat Uni Eropa. Ia menyebut bahwa hanya satu laga dari total 380 pertandingan yang akan digelar di luar Spanyol, yakni Villarreal vs Barcelona di Miami pada Desember 2025. Menurutnya, kritik yang menyebut rencana ini sebagai “pengkhianatan” adalah bentuk populisme yang tidak memahami realitas industri sepak bola modern.

Tebas menegaskan bahwa LaLiga tidak sedang mengabaikan fans lokal, melainkan berusaha memperluas basis fans internasional. Ia juga menyebut bahwa pemasukan dari ekspansi global ini pada akhirnya akan kembali kepada klub-klub, yang kemudian dapat berinvestasi lebih besar dalam pengembangan talenta lokal maupun infrastruktur.


Pandangan Uni Eropa: Fans Lokal Sebagai Prioritas

UE, melalui Glenn Micallef, menilai bahwa pertandingan reguler harus tetap dipertahankan di kandang asli. Menurutnya, kompetisi liga domestik dibangun atas loyalitas fans lokal yang menghadiri pertandingan dari generasi ke generasi. Memindahkan pertandingan ke luar negeri sama saja dengan menyingkirkan mereka demi keuntungan finansial.

Lebih jauh, kritik ini juga terkait isu regulasi. UEFA dan FIFA memang harus memberikan izin jika ada liga yang ingin menggelar pertandingan resmi di luar yurisdiksi mereka. Namun, tekanan politik dari Uni Eropa bisa berpengaruh besar terhadap keputusan tersebut. Jika nantinya terbukti bahwa langkah ini melanggar prinsip kompetisi atau merugikan fans, bisa saja muncul kebijakan larangan permanen.


Dampak Bagi Fans, Klub, dan Sepak Bola Global

Dampak untuk Fans Lokal

Bagi fans lokal, risiko terbesar adalah hilangnya pengalaman menonton tim kesayangan di stadion kandang mereka. Bayangkan fans AC Milan yang sudah membeli tiket musiman, tetapi salah satu laga justru dipindahkan ke benua lain. Hal ini bisa menimbulkan kekecewaan mendalam, bahkan potensi boikot.

Dampak untuk Fans Internasional

Sebaliknya, bagi fans internasional, langkah ini adalah kabar gembira. Mereka yang biasanya hanya bisa menonton klub favorit lewat layar kaca kini berkesempatan menyaksikan pertandingan resmi secara langsung di stadion lokal mereka. Ini bisa memperkuat basis dukungan global dan meningkatkan minat terhadap liga tersebut.

Dampak Ekonomi dan Komersialisasi

Secara ekonomi, langkah ini jelas menguntungkan. Hak siar internasional berpotensi naik, sponsor global semakin tertarik, dan merchandise klub akan terjual lebih banyak. Namun, di sisi lain, komersialisasi berlebihan bisa merusak esensi sepak bola sebagai olahraga rakyat.


Pro dan Kontra: Siapa yang Menang?

Polemik ini menunjukkan adanya jurang antara dua kepentingan: tradisi dan bisnis. Fans lokal dan sebagian regulator menginginkan sepak bola tetap berakar pada komunitas asli. Sebaliknya, klub dan operator liga menekankan pentingnya ekspansi global demi keberlanjutan finansial.

Apakah pada akhirnya pertandingan reguler di luar Eropa akan menjadi hal biasa? Atau justru akan ditentang habis-habisan hingga gagal diwujudkan? Waktu dan respon UEFA-FIFA akan menjadi penentu arah.


Kesimpulan

Kasus Serie A dan LaLiga ini bisa menjadi titik awal perubahan besar dalam lanskap sepak bola global. Jika berhasil, mungkin ke depan Premier League, Bundesliga, atau Ligue 1 juga akan mencoba hal yang sama. Namun, jika gagal, hal ini akan memperkuat argumen bahwa sepak bola harus tetap setia pada fans lokal.


Referensi: